Pada kali ini kami berkesempatan untuk memberikan review untuk sebuah film yang sudah tayang di 2020, yang berjudul The East.

Beberapa dari kalian mungkin pernah mendengar lirik “Kalau hanya senyum yang engkau berikan, Westerling pun tersenyum”? Betul sekali, lirik tadi adalah penggalan dari lagu Iwan Fals yang berjudul “Pesawat Tempur”.

Namun, siapa sebenarnya Westerling? Kenapa Iwan Fals sampai mengabadikannya dalam sebuah lagu yang begitu fenomenal dalam karier bermusiknya?

Westerling sendiri adalah seoranng tentara asal Belanda yangn pernah memimpin sebuah misi di Sulawesi Selatan.

Tentara ini dikenal sebagai tentara yang bengnis dan juga tidak mengenal kata ampun ketika mengeksekusi rakyat Indonesia.

Cerita keganasan Westerling tersebut akhirnya dimomenkan dalam sebuah film yang berjudul The East. Film ini sendiri sudah tayang sejak 7 Agustus 2021.

Pembahasan kali inni akan menjadi sedikit spoiler untuk beberapa orang, jadi kalau kamu orangnya tidak suka spoiler kamu bisa membaca artikel lainnya yang ada di website ini.

Film inni menceritakan seorang pemuda yang bernama Johan de Vries yang memutuskan untuk bergabung dengan militer Belanda.

Singkat cerita akhirnya ia mendapatkan tugas dan ditempatkan di Hindia dan juga tugas untuk  ke Semarang.

Suatu hari, ia terlibat sebuah konflik dengan sisa-sisa tentara Jepang yang masih disana, kondisi yang semakinn rusuh hingga datangnnya seorang tentara Belanda lainnnya menggebrak tentara Jepang hingga ketakutan.

Orang tersebut adalah Raymond Westerling, ia sendiri sudah sangat terkenal di Indonesia, karena ia merupakan tentara senior yang sudah berperang di banyak negara.

Akhirnya semenjak kejadian tersebut, de Vries semakin dekat dengann Westerlinng dan kagum padanya, bahkan ketika pemimpin satuan de Vries tak mendengarkannya tentang petunjuk lokasi pejuang Indonesia, de Vries mengadukannya pada Raymond dan mereka melakukan operasi sendiri untuk membunuh para pejuang Indonesia. Namun, giat perjuangan rakyat Indonesia masih membara. Sebab itu Belanda semakin melebarkan ekspansinya lebih luas hingga ke Sulawesi.

Westerling yang ditunjuk untuk memimpin satuan dengan beberapa anak buah, salah satunya adalah de Vries. Namun, setibannya di Sulawesi, kebengisan Westerling mulai terlihat.

Ia membantai banyak sekali rakyat Indonesia dengan cara yang sangat keji, tanpa pengadilan, orang Indonesia ia tembak dengan sesuka hati. Pada akhirnya batin de Vries menolak karena melihatnya sudah terlalu  berlebihan.

Film ini sendiri mendapatkan banyak sekali pujian dari berbagai kalangan, sutradara dari film ini sendiri adalah jim Taihuttu yang seorang keturunnan dari Maluku dan kakeknya adalah mantan tentara Indonesia.

Selama ini, di Belanda tak banyak yang tahu jika negerinya pernah menjajah sebuah negara bernama Indonesia. Kalaupun ada, sudut pandang positif yang ditekankan dari penjajahan Belanda terhadap Bumi Pertiwi selama berabad-abad lamanya. Film ini dianggap sebagai pengakuan jika Belanda pernah melakukan kekejaman terhadap orang-orang Indonesia.

Namun, selain dapat banyak pujian, film ini juga mendapat banyak kritik dan cacian. Beberapa berpendapat jika cerita film ini terlalu berlebihan dan tidak sesuai fakta sejarah. Bahkan,anak Westerling, terang-terangan merasa keberatan atas penggambaran ayahnya yang dirasa begitu kejam dalam film. Sang anak bahkan bilang kalau ayahnya justru disegani di Indonesia hingga mendapat julukan ‘Ratu Adil’.ro dan kontra film The East masih terjadi. Terlepas dari siapa yang betul, yang jelas film ini memang film fiksi. Tokoh de Vries memang fiktif. Namun, penggambaran Raymond Westerling diyakini mendekati sosok aslinya. Jim Taihuttu dan tim bahkan melakukan riset selama empat tahun agar tak banyak fakta sejarah yang meleset.

Sayangnya, film ini masih abu-abu dalam menyajikan mana pihak antagonis dan mana pihak protagonis. Di film ini, pejuang Indonesia disebut pemberontak. Orang-orang ini dicitrakan layaknya preman yang kejam. Bahkan, ada satu adegan di mana pemberontak ini menyekap orang Indonesia lain.

Tak diceritakan mengapa para pemberontak melakukan itu dan apa masalah awalnya. Lalu, ketika Westerling mulai pembantaian di Sulawesi, penonton tidak diberi tahu apa yang sebetulnya terjadi di Sulawesi. Serta, seberapa besar ancaman Indonesia bagi Belanda saat itu sampai-sampai Westerling membantai banyak orang di sana.